Slider

Recent Tube

Berita

Ilmiah

Opini

Fiksi

TQN

Buku

Donasi Pembangunan Pondok Pesantren TQN




Sejak dibentuknya kepengurusan Yayasan TQN Khathibiyah Sambas pada tanggal 29 Agustus 2016 dengan komposisi Ketua Bapak Drs. Hakimin, Sekretaris Bapak Dr. Adnan Mahdi, S.Ag., M.S.I., dan Bendahara Bapak Radimin, S.Pd.I, M.Ak., aktivitas Kajian Keislaman dan Dzikir TQN Syaikh Ahmad Khathib As-Sambasy semakin genjar dilaksanakan di Kabupaten Sambas. Selain itu, pembenahan Yayasan mulai dari melengkapi kepengurusan, penerbitan SK hingga legalitas Yayasan terus dilakukan, dan akhirnya pada tanggal 02 Februari 2018, terbitlah Akta Notaris Yayasan TQN Khathibiyah Sambas yang ditandatangai oleh Pengurus di depan Notaris Rita Yani, SH, M.Kn. di Kota Singkawang dan SK MENKUMHAM RI Nomor AHU-0001738.AH.01.04 Tahun 2018 pada tanggal 08 Februari 2018.

Setelah mendapatkan legalitas hukum, pada tanggal 19 Juli 2019, Yayasan TQN Khathibiyah Sambas membentuk Panitia Pembangunan Pondok Pesantren TQN Khathibiyah Sambas yang diketuai oleh H. Dedi Damhudi, Sekretarisnya Fathurizan dan Bendaharanya Salam M. Hasan (WA. 0812-5761-9875). Lokasi pembangunan Pondok Pesantren TQN tersebut di Desa Tekarang Kecamatan Tekarang Kabupaten Sambas.

Dalam konteks ini, Pengurus Yayasan, Panitia Pembangunan dan seluruh Jamaah TQN Khathibiyah Sambas saling bahu-membahu mencari sumber dana untuk pembangunan Pondok Pesantren TQN Khathibiyah Sambas. Sumber dana tersebut dari Kas Yayasan, Sumbangan Jamaah TQN, Pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat yang peduli serta mau mendonasikan hartanya untuk pembangunan Pondok Pesantren dimaksud. Tahap awal ini, pembangunan akan difokuskan untuk mendirikan Masjid TQN Syaikh Ahmad Khathib As-Sambasy dengan ukuran 15 M x 15 M serta Ruang 6 Lokal yang terdiri dari 3 Ruang Belajar, 1 Ruang Pengasuh Pondok, 1 Ruang Dewan Muallim/Muallimah, dan 1 Ruang Administrasi.

Bagi para donatur yang ingin berinfaq atau menyumbangkan rezekinya, dapat menyalurkannya melalui Rekening BRI atas nama Dedi Damhudi dengan nomor: 0089-0101-3510-537 atau menghubungi langsung Bendahara Panitia Bapak Salam M. Hasan di HP/WA 0812-5716-9875. Setiap sumbangan, harap memberitahukan panitia dan mengirimkan struk bukti transfer.

Kami seluruh Jamaah TQN Khathibiyah Sambas beserta Guru Mursyid Syaikh Jayadi M. Zaini mendoakan, semoga rezeki atau harta yang didonasikan menjadi amal jariyah para dermawan, rezekinya diberkahi dan dilipatgandakan oleh Allah SWT, diangkat penyakitnya, dimudahkan urusannya, dihindarkan dari bala’ maupun musibah, diangkat derajatnya di kalangan manusia serta dimasukkan ke dalam surga Allah SWT, âmîn ya Rabbal ‘alamîn.

Penulis: Adnan Mahdi


Tanah “Keramat” di Kampong Dagang Sambas


Syaikh Ahmad Khathib As-Sambasy

Sekitar 216 tahun yang lalu, lahirlah seorang bayi yang kini namanya sudah mendunia. Bayi tersebut bernama Ahmad Khathib atau yang lebih dikenal saat ini dengan Syaikh Ahmad Khathib As-Sambasy. Beliau lahir pada Bulan Safar Tahun 1217 H atau 1803 M, di Kampong Dagang atau Kampong Asam Sambas, Kalimantan Barat. Tanah yang sudah tak tersisa sedikitpun bangunan di bawah ini menjadi saksi sekaligus fakta sejarah bawah di “Tanah Keramat” Kampong Dagang inilah lahir seorang Ulama Dunia yang menjadi Guru dari Ulama-ulama di Nusantara. Berikut lokasi-lokasi dimaksud:


Tanah Tempat Rumah Syaikh Ahmad Khathib As-Sambasy

Pembersihan Lokasi Tanah Syaikh Ahmad Khathib As-Sambasy

Tanah Tampak dari Depan

Tanah Tampak dari Belakang

Lokasi Bekas Suak Syaikh Ahmad Khathib As-Sambasy

Lokasi Bekas Telaga/Sumur Syaikh Ahmad Khathib As-Sambasy

“Tanah Keramat” ini sudah tidak dimiliki oleh keluarga atau ahli waris dari Syaikh Ahmad Khathib As-Sambasy, karena telah dijual dan dimiliki oleh orang lain. Postingan ini bertujuan untuk menunjukan kepada dunia lokasi lahirnya Syaikh Ahmad Khathib As-Sambasy. Melalui postingan ini, mudah-mudahan Pemerintah Daerah Kabupaten Sambas atau para murid Beliau, termasuk para dermawan bisa membebaskan tanah dan dibangun situs Rumah Syaikh Ahmad Khathib As-Sambasy. Semoga Allah SWT mempermudah terwujudnya niatan dan azam al-Fakir Adnan ini, âmîn.





Tradisi Pendidikan Pralahir dalam Keluarga Melayu Sambas


Dr. Adnan Mahdi, S.Ag., M.S.I.

Masyarakat Melayu Sambas tempoe doeloe sangat dikenal agamis dan berakhlakul karimah. Kondisi ini terjadi pada masa kejayaan Kesultanan Sambas. Pada masa itu, telah lahir ulama-ulama Sambas yang sangat disegani karena kedalaman dan keluasan ilmu-ilmu agamanya, seperti Nuruddin Mustafa, Syaikh Ahmad Khathib As-Sambasy, Syaikh Nuruddin Tekarang, Syaikh Muhammad Sa’ad Selakau, Maharaja Imam Muhammad Basiuni Imran, Haji Muhammad Djabir dan masih banyak lagi ulama Sambas yang berpengaruh dan menjadi rujukan masyarakat di dalam dan dari luar Sambas.
Dibalik ketokohan dari nama-nama ulama yang telah disebutkan di atas, ada faktor lain yang sering terlewatkan, yakni orangtua yang telah berjasa dan berhasil menanamkan pendidikan Islam sejak dini sehingga bisa menghantarkan mereka menjadi ulama yang terkenal. Sungguh sangat mustahil mereka bisa menjadi ulama tanpa sentuhan pendidikan orangtuanya. Untuk itu, sangat perlu diungkap model pendidikan Islam yang sudah mentradisi di lingkungan keluarga dan masyarakat Melayu Sambas pada tempoe doeloe yang saat ini sepertinya sudah terpinggirkan.
Dalam tradisi pendidikan, orangtua Melayu Sambas sudah memulainya sejak anak masih di dalam kandungan. Pendidikan pralahir ini masih berbentuk pantang-larang kepada orangtuanya, terutama ibu yang sedang mengandung. Hampir setiap ibu yang mengandung, mereka dilarang untuk marah-marah, mencaci-maki, berbohong, berbicara semaunya, melamun, bermalas-malasan, banyak tidur, berpakaian tidak sopan, makan dan minum yang tidak halal. Selain itu, suami atau istri yang sedang hamil juga dilarang untuk menyembelih hewan, bersedih, melilitkan handuk atau sejenisnya di leher, tidak makan kulit sapi dan kulit ikan pari, terong asam maupun rebung. Ketika ingin berpergian pada malam hari, mereka harus membawa alat seperti paku, pisau atau sejenisnya, membawa puntongan kayu yang masih ada apinya, dan memakai tapih kain berwarna hitam.
Jika dilihat sepintas, sepertinya larangan-larangan tersebut tidak ada kaitannya dengan pendidikan anak di dalam kandungan, namun bila digali makna dan nilai pendidikan yang tersirat di dalamnya, ternyata orangtua dari pasangan yang mengandung tersebut dikehendaki agar selalu menjaga diri dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan tercela yang bertentangan dengan norma agama dan masyarakat Sambas pada umumnya. Orangtua pada masa lalu sadar betul bahwa apa yang dilakukan oleh ibu yang sedang mengandung tersebut bisa diwarisi oleh anaknya ketika sudah lahir. Kesadaran orangtua ini cukup beralasan, karena bila disandarkan dalam agama, anak sudah dapat dididik sejak berusia lima bulan di dalam kandungan, sebab pada usia empat bulan, janin sudah dikaruniai potensi pendengaran, penglihatan dan hati (QS. As-Sajdah [32]: 9). Menurut para ilmuwan, pada usia lima bulan ini anak sudah bisa mendengar, melihat dan merasakan perbuatan atau perkataan ibunya. Ketika di dalam kandungan, janin sudah berfungsi seperti piringan hitam atau blueprint yang siap untuk merekam setiap rangsangan yang diterimanya dan yang paling dekat serta aktif memberikan rangsangan adalah ibunya. Bahkan menurut hasil riset John Beck (1994), janin bisa mengalami peningkatan kecerdasan otak, keteguhan pendirian dan komunikasi yang baik setelah ia lahir bila ibunya berperilaku, berkata dan menjaga diri dengan baik saat kehamilannya. Penelitian serupa juga dilakukan Panthuraamphorn di Hua Chiew General Hospital, Bangkok Thailand pada anak pralahir, dan hasilnya bahwa bayi yang diberikan stimulasi pralahir sangat cepat mahir dalam berbicara, menirukan suara, menyebutkan kata pertama, tersenyum secara spontan, mampu menoleh ke arah suara orangtuanya, lebih tanggap pada musik, dan juga mengembangkan pola sosial lebih baik saat ia dewasa.
Berdasarkan dalil dan hasil riset di atas, maka cukup beralasan bagi orangtua Melayu Sambas untuk menjaga dan memberikan pendidikan terbaik kepada anaknya sejak dalam kandungan. Namun sangat disayangkan pada generasi millenial saat ini, tradisi pantang larang saat kehamilan dinilainya sudah usang, tidak relevan dengan perkembangan zaman, bahkan tidak sedikit yang menghukuminya syirik atau bid’ah tanpa mau mengetahui dasar dalil dan menggali nilai pendidikan yang tersirat di dalamnya. Padahal, dari tradisi pendidikan pralahir ini, sedikit banyaknya sudah berkontribusi positif dalam melahirkan ulama-ulama Sambas tempoe doeloe. (Insya Allah tulisan ini akan bersambung ke: Tradisi Pendidikan Anak Usia 0-1 Tahun dalam Keluarga Melayu Sambas).

Berharap Kembalinya Kejayaan Sambas sebagai Serambi Mekah


Dr. Adnan Mahdi, S.Ag., M.S.I.
(Sekretaris Umum Yayasan TQN Khathibiyah Sambas)

Jargon Sambas sebagai Serambi Mekah sudah dikenal sejak zaman kesultanan Sambas, dan indikator terkuat pelabelan Serambi Mekah tersebut terjadi pada masa Sultan Muhammad Syafiuddin II. Salah satu situs sejarah yang dapat dilihat hingga saat ini adalah Masjid Jami’ Muhammad Syafiuddin II, terletak di komplek Istana Alwatzikoebillah, Desa Dalam Kaum Kecamatan Sambas. Masjid Jami’ yang sudah berusia 134 tahun sejak diresmikan pada tanggal 10 Oktober 1885 oleh Sultan Muhammad Syafiuddin II, pada zamannya dijadikan sebagai tempat ibadah dan kegiatan keagamaan sekaligus sentral Pendidikan Agama Islam. Berawal dari pendidikan di Masjid Jami’ ini, pihak Kesultanan Sambas mengutus beberapa pemuda untuk belajar dan memperdalam ilmu agama Islam ke Timur Tengah. Satu di antara beberapa tokoh yang pernah belajar di Al-Azhar Mesir dan namanya sudah mendunia adalah Muhammad Basiuni Imran. Sepulangnya dari pendidikan, Basiuni Imran dinobatkan sebagai Mahraja Imam Kesultanan Sambas dan dipercayakan untuk mengelola sekolah pertama Kesultanan Sambas yang diberi nama al-Sulthoniyah. Melalui al-Sulthoniyah inilah pendidikan Islam diajarkan secara formal, sementara pendidikan non formalnya tetap dilaksanakan di Masjid Jami’ Sultan Muhammad Syafiuddin II yang peserta didiknya tidak hanya berasal dari kalangan istana, tapi juga dari berbagai kalangan dan daerah di luar Kesultanan Sambas.

Selain pendidikan Islam melalui jalur formal kesultanan, pelabelan Serambi Mekah ini pula ditopang oleh pendidikan non formal yang dilakukan di kalangan masyarakat. Ada dua tokoh sebagai pewaris ajaran Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN) Syaikh Ahmad Khathib As-Sambasy (1803-1875 M) yang berasal dan menetap di Sambas yaitu Syaikh Muhammad Sa’ad (1807-1922 M) di Selakau dan Syaikh Nuruddin (1835-1895 M) di Tekarang. Kedua Syaikh ini belajar TQN langsung dari gurunya Syaikh Ahmad Khathib As-Sambasy di Mekah dan mengajarkan pelajaran tersebut kepada masyarakat di masjid yang didirikan dekat dengan rumah tempat tinggalnya. Inti materi ajaran TQN ini terletak pada pensucian hati dan ikhtiar untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan amalan pokok setelah shalat fardhu, yaitu dzikir Allah dan Lâilâhaillallâh. Bagi orang yang sudah terbiasa berdzikir dan merasakan keberadaan Allah dimanapun dan kapanpun, maka hidupnya akan lebih baik dan bisa memancarkan kebaikan-kebaikan kepada orang lain. Potret masyarakat Sambas pada masa lalu adalah masyarakat religius dan berakhlakul karimah, sehingga sangat dimungkinkan kebaikan-kebaikan tersebut sebagaian besarnya dipengaruhi oleh pendidikan yang mereka dapatkan, mulai dari pendidikan informal di rumah, pendidikan formal di sekolah, maupun pendidikan non formal di masyarakat. Bijaknya orang tua masa lalu adalah menanamkan nilai-nilai religius dan akhlakul karimah kepada anak-anak mereka tidak serta-merta dilakukan secara langsung, tapi disampaikan juga melalui adat istiadat di masyarakat, seperti kegiatan Zikir Nazam (Assalai dan Asrakal), Zikir Maulid, Tepung Tawar, Bejajak, Bepapas, Tahlilan, termasuk peringatan Maulid Nabi, Isra’ Mi’raj dan berbagai kegiatan lainnya. Oleh sebab itu, kegiatan-kegiatan ini tidak boleh langsung dihukumi halal-haram atau sunnah-bid’ah, tapi harus dilihat muatan dan nilai-nilai pendidikan yang ada di dalamnya. Sebab adat istiadat, tradisi atau kegiatan tersebut tidaklah sembarangan dilakukan orang tua masa lalu, mereka selalu berpedoman pada falsafah Melayu: Adat Bersendikan Syara’, Syara’ Bersendikan Kitabullah.

Berdasarkan uraian singkat di atas, dapat ditarik simpul-simpulnya yang bisa mendorong kembali agar Sambas menjadi Serambi Mekah dengan memadukan model dari tiga pusat pendidikan, yakni keluarga, sekolah dan masyarakat. Model pendidikan ini rencananya akan dilakukan oleh TQN Khathibiyah Sambas melalui pendirian Pondok Pesantren di Tekarang, lokasinya tidak jauh dari rencana pembangunan Jembatan Sungai Sambas Besar di Makrampai-Tekarang. Untuk merealisasikan pendirian Pondok Pesantren TQN Syaikh Ahamd Khathib As-Sambasy tersebut yang rencananya akan diberi nama Pondok Pesantren Khathibiyah Sambas, tentu sangat memerlukan dukungan dari seluruh elemen masyarakat, termasuk para pemegang kebijakan mulai dari Kepala Desa, Camat, Bupati, Gubernur dan seterusnya. Pengurus Yayasan dan seluruh Jama’ah TQN Khathibiyah Sambas sangat berharap kepada Bupati Sambas dan Gubernur Kalimantan Barat agar dapat membantu merealisasikan pendirian Pondok Pesantren Khathibiyah Sambas ini dalam ikhtiar membantu mewujudkan masyarakat Sambas religius dan berakhlakul karimah, melestarikan ajaran TQN Syaikh Ahmad Khathib As-Sambasy sekaligus usaha untuk menjadikan Sambas sebagai Serambi Mekah Jilid II.

Tulisan ini sudah diterbitkan di Majalah Media Sambas

Khutbah Shalat Istisqa': Ketaatan Mendatangkan Rahmat Allah


Dr. Adnan Mahdi, M.S.I.
Halaman Masjid Agung Babul Jannah
Sambas, 23 September 2019

اَسْـتَغْـفِـرُ اللهَ الْـعَـظِـيْـمَ (9x) اَلَّذِيْ لاَ اِلٰـهَ اِلاَّ هُوَ الْـحَيُّ الْـقَـيُّوْمُ وَاَ تُوْبُ اِلَـيْـهِ. اَلْـحَمْدُ لِلّٰهِ الَّـذِيْ أَنْــزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَـاءً فَــأَحْــيَا بِــهِ الْأَرْ‌ضَ بَــعْـدَ مَـوْتِــهَا ۚ إِنَّ فِــي ذٰلِـكَ لَآيَــةً لِّــقَـوْمٍ يَـسْمَعُوْنَ. اَللّٰـهُمَّ صَلِّ وَسَـلِّـمْ عَـلىٰ عَــبْدِكَ وَرَسُوْلِــكَ مُحَمَّدٍ، وَعَـلىٰ آلِــهِ وَصَحْبِـهِ أَجْـمَعِـيْنَ. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْـمُؤْمِنُوْنَ: اِتَّـــقُوْا اللهَ! أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّــايَ بِــتَــقْوَى اللهِ، وَطَاعَــتِـهِ فَــقَدْ فَــازَ الْـمُـتَّــقُـوْنَ.
Kaum Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang selalu melimpahkan nikmat dan rahmat-Nya kepada kita semua, sehingga di pagi hari ini, kita berkumpul di halaman Masjid Agung Babul Jannah, dengan tujuan yang sama, yakni terus berharap dan menantikan curahan hujan yang merata sehingga bisa kembali menyuburkan tanah yang kering, memadamkan kebakaran hutan dan lahan, serta dapat meleyapkan bencana kabut asap di bumi Sambas yang kita cintai ini. Shalawat beriring salam, semoga senantiasa tercurahlimpahkan kepada baginda junjungan alam, manusia teladan sepanjang zaman, yakni Baginda Rasulullah Muhammad SAW, âmîn ya Rabbal âlamîn.
Jama’ah Shalat Istisqa’ yang dirahmati Allah SWT
Dalam suasana keprihatinan musim kemarau panjang saat ini, marilah kita selalu bertafakur secara mendalam, melihat ke dalam diri kita masing-masing, sudah sampai dimanakah kualitas iman, ketaatan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT? Jangan-jangan lantaran semakin menurunnya kualitas dimaksud, Allah datangkan ujian berupa kemarau panjang, kebakaran hutan serta kabut asap yang sangat mengkhawatirkan setiap orang. Hendaknya kita sadari, bahwa apa yang sedang kita alami saat ini, semuanya merupakan akibat dari diri kita sendiri. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Allah dalam al-Qurân surah an-Nisâ’ ayat 79:
وَمَآ أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٖ فَمِنْ نَّفۡسِكَۚ
...dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.
Kaum Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah
Berdasarkan ayat di atas, patutnya kita sadari dan introspeksi diri, betapa banyak kesalahan dan kelalaian yang sudah kita laku-kan sehingga kekeringan, kebakaran hutan dan kabut asap selalu terjadi hampir setiap tahun di daerah ini. Ingatlah, pada masa lalu, Sambas merupakan daerah yang kaya akan hasil hutan, berbagai flora dan fauna hidup dan berkembang di daerah kita ini. Namun sekarang, hutan-hutan dibabat tanpa henti, gunung-gunung gundul dari hari ke hari, bahkan flora dan fauna semakin punah tanpa ada cadangan pengganti. Belum lagi laut dan sungai-sungai kita, hampir setiap hari dirusak dan dicemari oleh limbah perusahaan dan peti, sehingga ikan-ikannya mati tak bisa dikonsumsi. Kerusakan yang terjadi ini, tak lain adalah akibat dari ulah manusia yang tamak dan tak tahu diri. Ingatlah akan amaran Allah:
ظَهَرَ ٱلۡفَسَادُ فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِي ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعۡضَ ٱلَّذِي عَمِلُواْ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ ٤١
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (QS. ar-Rûm: 41).
Kaum Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah
Selain kerusakan-kerusakan alam di darat dan di laut, kita juga menyaksikan banyaknya kerusakan dalam tatanan nilai sosial dan keagamaan di daerah ini. Dahulu, pada masa Kesultanan Sambas, daerah kita ini sangat dikenal sebagai pabriknya ulama, masyarakat-nya agamis dan berakhlak mulia. Dari pantai utara Kalimantan Barat ini, Sambas telah melahirkan ulama-ulama sekaliber dunia seperti Syaikh Ahmad Khathib Sambas dan Maharaja Imam Muhammad Basiuni Imran, ditambah lagi dengan ulama-ulama yang menjadi rujukan ilmu agama, seperti Syaikh Nuruddin Mustafa, Syaikh Nuruddin Tekarang, Syaikh Muhammad Sa’ad Selakau, Syaikh Haji Muhammad Djabir dan beberapa ulama lainnya yang cukup disegani karena penguasaan ilmu agamanya. Tak heran, dengan banyaknya ulama dan agamisnya kehidupan masyarakat, Sambas pernah di-juluki sebagai Serambi Mekah.
Namun bila kita lihat hari ini, serasa sulit sekali kita menemukan ulama-ulama Sambas yang diakui karena ketinggian ilmunya dan kemuliaan akhlaknya. Kehidupan masyarakat sepertinya telah ke-hilangan karakter kemelayuannya, anak-anak muda lebih senang menghadiri tempat hiburan ketimbang pengajian, pergaulan bebas, pencabulan dan perceraian bertambah banyak, bahkan kecanduan teknologi terus meningkat.
Kaum Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah
Bila dieja satu-persatu kesalahan dan kelalaian kita hingga saat ini, mungkin masih banyak lagi jumlahnya. Deretan dan akumulasi kesalahan dari semua inilah barangkali yang menyebabkan Allah murka dan mendatangkan kemarau panjang, kebakaran hutan dan lahan, serta kabut asap yang sangat mengkhawatirkan. Hal ini bisa kita simak firman Allah dalam QS. Asy-Syurâ; 30:
وَمَآ أَصَٰبَكُم مِّن مُّصِيبَةٖ فَبِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِيكُمۡ وَيَعۡفُواْ عَن كَثِيرٖ
Dan apa saja musibah yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).
Berdasarkan ayat di atas, jelaslah bahwa apa yang kita alami saat ini merupakan akibat dari perbuatan kita sendiri. Untuk memperoleh ampunan-Nya, maka kita harus beristighfar kepada Allah SWT sesuai firman-Nya:
 فَقُلۡتُ ٱسۡتَغۡفِرُواْ رَبَّكُمۡ إِنَّهُ، كَانَ غَفَّارٗا ١٠ يُرۡسِلِ ٱلسَّمَآءَ عَلَيۡكُم مِّدۡرَارٗا ١١
Maka aku katakan kepada mereka: Mohonlah ampun kepada Tuhan-mu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat (QS. Nûh: 10-11).
Berdasarkan ayat di atas, Allah sudah berjanji akan menurun-kan hujan yang lebat kepada kita apabila kita mau beristighfar dan bertaubat dengan sungguh-sungguh kepada-Nya, mengakui semua kesalahan dan terus berikhtiar untuk tidak mengulanginya. Selain itu, kita juga harus yakin, sabar dan ridha dalam menjalani ujian Allah ini, karena dibalik ujian atau musibah, pasti Allah sertakan pahala dan kebaikan yang banyak buat kita, sebagaimana sabda Rasulullah di bawah ini:
إِنَّ عِظَـمَ الْـجَــزَاءِ مَعَ عِـظَمِ الْـــبَـلاَءِ، وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَــبَّ قَــوْمًا ابْـــتَــلاَهُــمْ، فَـمَنْ رَضِيَ فَـلَـهُ الـرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَـلَـهُ السُّخْــطُ.
Sesungguhnya pahala yang besar didapatkan melalui cobaan yang besar pula. Apabila Allah mencintai seseorang, maka Allah akan memberikan cobaan kepadanya, barangsiapa yang ridha (menerima-nya), maka Allah akan meridhainya, dan barangsiapa yang murka (menerimanya) maka Allah murka kepadanya (HR. Tirmidzi; 2396).

Dalam hadits lain, Rasulullah SWT menegaskan:
إِذَا أَرَادَ اللهُ بِـعَــبْدِهِ الْـخَــيْـرَ عَجَّـلَ لَـهُ الْـعُـقُوْبَـــةَ فِي الــدُّنْـــيَا، وَإِذَا أَرَادَ اللهُ بِـعَـبْـدِهِ الشَّــرَّ أَمْسَـكَ عَــنْـهُ بِـــذَنْــبِـهِ حَتَّى يُــوَافِــيَ بِــهِ يَــوْمَ الْـقِـــيَامَةِ
Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada hamba-Nya, Allah akan segerakan ujian untuknya di dunia, dan apabila Allah meng-inginkan keburukan kepada hamba-Nya, Allah akan menahan azab baginya akibat dari dosanya (di dunia) sampai Allah membalasnya (dengan sempurna) di hari kiamat (HR. At-Tirmidzi dan Al-Hakim dari Anas bin Malik).
Berdasarkan dua hadits di atas, bisa kita pahami bahwa apapun yang bersumber dari Allah, pasti ada kebaikan dan hikmah yang menyertainya. Semoga, melalui ujian kemarau panjang, kebakaran hutan dan lahan serta kabut asap saat ini dapat menyadarkan diri kita untuk senantiasa memohon ampunan Allah SWT, mengerjakan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Mudah-mudahan, melalui kesadaran dan penyesalan ini, diiringi doa yang tulus dan penuh pengharapan, Allah SWT turunkan hujan lebat-merata, yang membawa rahmat kepada kita semua di Kabupaten Sambas, âmîn ya Rabbal âlamîn.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَــكُمْ فِي الْـقُرْآنِ الْـعَظِــيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّـاكُمْ بِـمَا فِــيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْـمُسِلِمْينَ وَالْـمُسْلِمَاتِ وَالْـمُؤْمِنِيْنَ وَالْـمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْـفِـرُوْهُ فَــيَا فَــوْزَ الْـمُسْتَغْـفِـرِيْـــنَ وَيَــا نَـجَاةَ الــتَّائِــبِيْنَ

Khutbah Kedua
اَسْـتَغْـفِـرُ اللهَ الْـعَـظِـيْـمَ (7x) اَلَّذِيْ لاَ اِلٰـهَ اِلاَّ هُوَ الْـحَيُّ الْـقَـيُّوْمُ وَاَ تُوْبُ اِلَـيْـهِ. الحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِى جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْ‌ضَ فِرَ‌اشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَ‌جَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَ‌اتِ رِ‌زْقًا لَّكُمْ ۖ فَلَا تَجْعَلُوا لِلّٰهِ أَنْدَادًا وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لا إِلهَ إِلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الـمُؤْمِنُوْنَ اتَّقُوْا اللهَ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ الـمُتَّقُوْنَ. وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلـمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِين. الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ يَفْعَلُ مَا يُرِيْدُ، اللَّهُمَّ أَنْتَ اللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ. أَنْتَ الْغَنِّيُ وَنَحْنُ الْفُقَرَاءُ، أَنْزِلْ عَلَيْنَا الْغَيْثَ وَاجْعَلْ مَا أَنْزَلْتَ عَلَيْنَا قُوَّةً وَبَلاًغًا إِلَى حِيْنَ. اللَّهُمَّ اسْقِ عِبَادَكَ وَبَهَائِمَكَ وَانْشُرْ رَحْمَتَكَ وَأَحْىِ بَلَدَكَ الْمَيِّتَ .للَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا.

اللّهُمَّ إِنَّا نَسْتَغْفِرُكَ إِنَّكَ غَفَّارًا فَأَرْسِلِ السَّمَآءَ عَلَيْنَا مِدْرَارًا. اللّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُبِكَ مِنَ الذُّنُوْبِ الَّتِي تَـمْنَعُ غَيْثَ السَّمَآءِ وَ نَعُوْذُبِكَ مِنَ الذُّنُوْبِ الَّتِي تُذِلُّ الأَعِزَّ وَ تُدَلِّلُ الأَعْدَاء. اللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالـمُسْلِمَاتِ وَالـمُؤْمِنِيْنَ وَالـمُؤْمِنَاتِ الأحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَقَاضِيَ الحَاجَاتِ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ، اللّهُمَّ لا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لايَخَافُكَ وَلا يَرْحَمُنَا، َرَبَّنَا لاتُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّاب، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِسبُحْاَنَكَ. اللّٰهُمَّ وَتَحِيَّتُهُمْ فِيْهَا سَلامٌ وَآخِرُ دَعْوَاهُمْ أَنِ الحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ.



Merokok di Mata Perokok


oleh: Habib Munzir al Musawa

Asap rokok menggoda selera;
Pun semerbak kasturi tertandingi;
Pahitnya, manis terasa;
Aneh, pahit kok manis rasanya.

Di atas adalah ungkapan seorang wali besar dan ulama ternama serta tokoh sufi terkemuka asal Syiria, yaitu Sidi Abdul Ghani al-Nabulsi ra. (wafat tahun 1143 H.) dalam kitab dalam kitab Muntakhabat al-Tawarikh Lidimasyq. Dalam kitab yang sama menceritakan: Syaikh Sunan Efendi yang lebih dikenal dengan sebutan Allati Barmaq, seorang Mufti dan pakar Fiqh bermadzhab Hanafi yang sempat meraih julukan Syaikhul Islam pada zamannya, pernah membaca karya tulis Sidi Abdul Ghani al-Nabulsi ra. tentang kebolehan merokok, yang berjudul: Al-Ishlah Bainal Ikhwan fi Ibahat Syurb al-Dukhan.

Syekh Allati Barmaq saat itu mengharamkan rokok, oleh karena itu ia sangat kontra dengan isi buku tersebut yang kemudian terjadilah adu argumen antara Syekh Allati Barmaq dengan Sidi Abdul Ghony, dan pada akhirnya Syekh Allati Barmaq mengakui kebenaran Sidi Abdul Ghony dan lantas minta maaf. Lalu dengan tegas mengatakan bahwa yang mengharamkan rokok adalah jahil, tolol, zindiq dan tak ubahnya dengan binatang hina. Sebab ternyata pada rokok terdapat rahasia Allah yang menyirati banyak khasiat dan manfaat. Aroma dan rasanya pun amat lezat. Ungkapan tersebut berbunyi sebagai berikut:
Sungguh tolol, yang tak peka asap rokok; Bak hewan yang tak punya cita rasa; Tak patut diharamkan; Hanya kaum zindiq lah yang merekayasa; Wahai pecandu sufi, Kenapa tak kau rengkuh rokok saja; Andai tak ada rahasia, baunya pun takkan lezat terasa; Padanya, rahasia Sang Kuasa; Ahli hakekat Allati Barmaq sebagai saksinya.

Dalam kitab Jawahirul-Bihar fi Fadla'ilinnabiyyil-Mukhtar oleh Syekh Yusuf al-Nabhani, menyatakan sebagai berikut: Syekh Abdul Ghani al-Nabulsi ra., menceritakan sebuah perjalanannya menimba ilmu di tanah Hijaz: Syekh Abdul Qadir Efandi seperti biasa, hadir bersama kami untuk membacakan ringkasan Sahih Bukhari. Lantas, ia membaca Hadits yang berbunyi: Dari Saidina Abi Hurairah dari Nabi SAW, Beliau bersabda: Siapa yang bertemu Aku pada saat mimpi, pasti akan bertemu denganku dalam keadaan terjaga, dan tak mungkin setan menyerupaiku. Kami berdiskusi tentang hadits ini seraya mengutip karya Imam Suyuthi yang berjudul Tanwirul Halak fi Imkan Ru'yat al-Nabi wal Malak. Syekh Abdul Qadir Efandi menyebutkan bahwa ia memiliki karya tersebut sah secara silsilah dan akan disampaikan kepada kita (para santrinya).

Selanjutnya kami berdiskusi tentang hukum merokok, lalu ia meriwayatkan: "Ada sebuah kisah dari Syekh Ahmad bin Manshur al-Aqrabi, dari Syekh Ahmad bin Abdul-Aziz al-Maghribi, ia menyatakan bahwa ia sering bertemu dengan Nabi SAW (dalam tidur maupun jaga). Suatu ketika ia jatuh sakit dan Rasulullah menemui beliau, kemudian ia bertanya tentang hukum merokok. Nabi pun diam tak menjawab. Kemudian beliau malah menyuruhnya untuk merokok"!!!

Syekh Ahmad bin Abdul-Aziz al-Maghribi (yang senantiasa menjumpai Rasul dan bertanya tentang rokok dan ternyata mendapat perintah untuk menghisapnya) adalah seorang pemuka kenamaan dan tokoh kepercayaan pada masanya. Seorang Wali besar di masanya.

-----

Ust. Nuruddin al-Banjari anti terhadap rokok namun Ust. Nuruddin al-Banjari pernah berguru pada beberapa Syekh yang terkenal perokok diantaranya Syekh Yasin Al Fadani al-Hasani, Syekh Yasin al-Fadani al-Hasani adalah seorang sufi yang ahli dalam ilmu hadits bahkan dijuluki sebagai "Musnid Addunia" oleh murid-murid beliau, seperti Dr. Ali Jum'ah yang menjabat sebagai mufti Mesir. Dr. Ali Jum'ah pernah ditanya apakah ada Wali yang merokok? Beliau mengayakan "iya", karena ada ulama yang menghalalkan rokok, beda halnya dengan hukum zina, semua ulama sepakat akan keharamannya. Dr. ALi Jum'ah memberi contoh Wali yang merokok, yaitu Syekh Yasin al-Fadani al-Hasani. Ketika Beliau sedang mengajar, Beliau menghisap Syisyah (rokok Arab) sambil meriwayatkan hadits, ujarnya.

Seorang Wali besar Al-Arif Billah Syeikh Ihsan Jampes Kediri, ulama bertaraf internasional yang kitabnya jadi rujukan di Timur Tengah dan Mesir, pernah menulis masalah perbedaan pendapat rokok dengan amat bagus sekali. Beliau sendiri adalah perokok. Apakah orang seperti Syeikh Ihsan Jampes yang menulis kitab Tasawuf bermutu tinggi pada usia 33 tahun itu dadanya tidak ditembusi cahaya Allah hanya karena asap rokok?

KH. Abdul Hamid Pasuruan - beliau adalah Waliullah yang masyhur dihormati oleh sesepuh mursyid tarekat mu'tabarah, tidak anti rokok dan tidak pernah mengharamkan rokok. Apakah kyai sekaliber Mbah Hamid ini shalatnya tidak diterima oleh Allah hanya karena merokok?

KH Raden As'ad Syamsul Arifin adalah seorang Waliullah di zamannya, yg juga merokok. Apakah beliau ini akan masuk neraka hanya karena berpendapat merokok tidak haram?

Siapapun tentu mengetahui kemasyhuran KH. Khamim Jazuli (Gus Miek) dan pasti tahu Alimul ‘allamah Al ‘Arif Billah Asy-Syekh Muhammad Zaini Abdul Ghani (Tuan Guru Ijai al-Aidrus Martapura Kalimantan Selatan) dikenal sebagai seorang Wali Mursyid yg masyhur yang di kunjungi para alim ulama Habaib dari belahan dunia, juga merokok.

-----

INGAT!!!
Postingan ini tidak bermaksud membela diri Perokok atau mengajurkan pembaca untuk Merokok, hanya sekedar informasi atau pengetahuan saja, dan hendaknya yang tidak merokok agar menjaga diri supaya tidak gegabah “menghakimi” orang yang merokok dengan kata-kata buruk, caci-maki, celaan, dan lain sebagainya, karena masih banyak perbedaan dalam menghukumi rokok, ada yang mengharamkannya, memakruhkan, dan ada pula yang memubahkannya.






Mungkinkah Makam Syaikh Ahmad Khathib As-Sambasy Dipindahkan ke Sambas?


Penulis: Dr. Adnan Mahdi, M.S.I.
Sekretaris Umum Yayasan TQN Khathibiyah Sambas
Syaikh Ahmad Khathib As-Sambasy adalah tokoh tarekat dunia dan selalu harum namanya hingga saat ini. Syaikh Ahmad Khathib lahir di Kampung Dagang, Sambas, Kalimantan Barat pada tahun 1803 M. Ayahnya bernama Abdul Ghaffar bin Abdullah bin Muhammad bin Jalaluddin yang berasal dari Sange' Kecamatan Teluk Keramat saat ini (ada juga pihak keluarga yang menyatakan beliau berasal dari Galing), dan belakangan ini baru diketahui oleh penulis bahwa nama ibu dari Syaikh Ahmad Khathib merupakan anak dari isteri kedua Imam Masjid Jami’ Kesultanan Sambas yaitu H. Nuruddin Mustafa, yang bernama Siti Aisyah. Informasi ini penulis peroleh dari Fathur Rizan setelah beliau memperoleh cerita dari pamannya yang bernama Zulfikar, saat ini tinggal di Kampong Dagang Timur.

Syaikh Ahmad Khathib As-Sambasy bukan hanya diakui sebagai penggabung dua tarekat besar, yakni Tarekat Qadiriyah dan Tarekat Naqsyabandiyah dan kemudian mendirikan Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah yang lumrahnya disingkat TQN, tapi ia juga diakui sebagai gurunya para Ulama Nusantara. Selain itu, Syaikh Ahmad Khathib juga diakui sebagai inspirator yang menggelorakan semangat juang bagi para murid maupun penerusnya dalam merebut kemerdekaan Indonesia dari para penjajah. Bahkan, tak bisa dipungkiri bahwa Syaikh Ahmad Khathib As-Sambasy merupakan tokoh yang mampu mengangkat martabat dan mengharumkan nama baik Indonesia di mata dunia. Mestinya sosok Syaikh Ahmad Khathib As-Sambasy ini sangat pantas dinobatkan sebagai tokoh berpengaruh di dunia Islam, atau setidaknya Pahlawan Nasional di Negara Kesatuan Republik Indonesia ini, tapi faktanya tidak demikian hingga saat ini. Jangankan di skala dunia atau Indonesia, di level Kabupaten Sambas saja nama beliau belum dihargai, bahkan ironisnya kurang dikenal oleh masyarakat di tanah kelahirannya sendiri.

Makbaroh Ash-Shubaikah (Sisi Kiri Pintu Masuk), Samping Ujung Sekitar Masjidil Haram, Makkah Al-Mukarramah

Makbaroh Ash-Shubaikah (Sisi Kanan Pintu Masuk), Samping Ujung Sekitar Masjidil Haram, Makkah Al-Mukarramah

Lebih menyedihkannya lagi, ketika penulis melaksanakan ibadah umrah dan menyempatkan diri menziarahi Makbarah Ash-Shubaikah bersama H. Muda dan Ustadz Isrori Labib pada tanggal 30 Januari 2019, petugas yang menjaga kawasan pembangunan hotel di daerah Shubaikah, tidak tahu persis dimana lokasi Makbaroh tersebut. Dengan niat dan ikhtiar yang kuat bersama H. Mub’di (H. Muda), akhirnya Makbaroh Ash-Shubaikah kami temukan dan letaknya di hujung pelebaran Masjidil Haram, depan Hotel Anjum, diapit oleh dua jalan raya. Dari sisi kanan pintu makam, tidak ditemukan tulisan yang menunjuk bahwa lokasi tersebut adalah Makbaroh Ash-Shubaikah, karena tanahnya rata dan tidak lagi seperti makbaroh pada umumnya. Padahal ada tiga pemakaman yang dilindungi di Tanah Haram, yaitu: Jannatul Baqi’ di luar pagar Masjid Nabawi Madinah yang didalamnya dimakamkan Syaidina Utsman bin Affan RA, Halimah Sya'diyah RA, dan Ananda Rasulullah Fatimah RA dan Ibrahim; Jannatul Ma’la di Makkah yang di dalamnya dikebumikan jasad yang mulia Siti Khadijah RA, dan Pemakaman Ash-Shubaikah di sekitar Masjidil Haram Makkah. Dalam bertawassul, biasanya ketiga pemakaman suci ini selalu disebut dan disedekahi dengan al-Fatihâh.

Jannatul Baqi', Luar Pagar Pintu 36-37 Masjid Nabawi, Madinah Al-Munawwarah

Jannatul Baqi', Luar Pagar Pintu 36-37 Masjid Nabawi, Madinah Al-Munawwarah

Menurut informasi yang pernah diupload oleh KBIH Khairul Ummah di Youtube pada tanggal 26 November 2017 ( https://www.youtube.com/watch?v=zzK6ZeEUvcc ), di Makbaroh Ash-Shubaikah inilah lokasi pemakaman Syaikh Ahmad Khathib As-Sambasy. Hal ini juga sama informasinya yang diperoleh H. Muda saat dirinya diajak oleh temannya untuk berziarah ke makbaroh tersebut. Namun menurut informasi Zulfikar melalui Fathur Rizan yang saat ini tinggal di Kampong Dagang Timur, Sambas, makam Syaikh Ahmad Khathib As-Sambasy sudah dipindahkan ke daerah Kamran dekat makam kakeknya yang bernama H. Nuruddin Mustafa, sekitar 15 menit dari Makkah. Ada pula dari pihak keluarga yang menyatakan bahwa Syaikh Ahmad Khathib dipindahkan ke pemakaman Jannatul Ma'la. Informasi ini tentu masih perlu ditelusuri kebenarannya, karena memang pernah akan dilakukan pemindahan Makbaroh Ash-Shubaikah oleh Hotel Anjum, namun mereka gagal mengesksekusinya karena tanah makam tersebut tidak bisa digali atau ditembus oleh alat berat, tanah makam keras seperti besi.

Jannatul Ma'la di Makkah, Lokasi Pemakaman Isteri Rasulullah, Siti Khadijah RA
dan di dalamnya terdapat makam Syaikh Nawawi Al-Bantani, Murid Syaikh Ahmad Khathib As-Sambasy

Terlepas dari benar tidaknya informasi pemindahan makam Syaikh Ahmad Khathib As-Sambasy tersebut, jelasnya para jamaah pengamal TQN di seluruh dunia tidak bisa menziarahi makam Syaikh Ahmad Khathib As-Sambasy, selain tanah pemakaman sudah rata, batu nisan makam sudah tidak lagi terlihat, dan perawatan serta pemeliharaannya tidak sama seperti di Jannatul Baqi’ dan Jannatul Ma’la. Meskipun Syaikh Ahmad Khathib As-Sambasy bukan se-level Nabi, Keluarga Nabi atau para Sahabat Nabi, setidaknya makam Beliau dirawat seperti Makam Syaikh Nawawi Al-Bantani di Jannatul Ma’la. Bila memungkinkan, Pemerintah Daerah Kabupaten Sambas atau Pemerintah Pusat bisa memindahkan Makam Syaikh Ahmad Khathib As-Sambasy ke Kabupaten Sambas, Tanah Kelahirannya, Semoga...!