Slider

Recent Tube

Berita

Ilmiah

Opini

Fiksi

TQN

Buku

Laporan Pembangunan Rumah Guru Ngaji

Berawal dari keinginan menziarahi sebuah makam tua di Dusun Saing Rambi Desa Perigi Maram Kecamatan Sambas, Saya bersama Muriadi, Maryadi, Irwandy dan Indi yang ditemani oleh kedua anak didik Saya yang berdomisili di daerah makam tersebut bernama Infi Kayana dan Heru Sanjaya melangsungkan niat tersebut. Setelah berziarah, kami bertamu ke rumah Infi Kayana yang tidak jauh dari lokasi makam tersebut, dan kami cukup terkejut melihat kondisi rumah yang sudah sangat rapuh dan hampir tidak layak huni. Sepulang dari tempat tersebut, Saya bersama kawan-kawan bertekad untuk membantu pembangunan rumah Bu Ratna Juwita bersama tiga anaknya yang bernama Infi Kayana, Meilisna, Parhan, dan secara kebetulan Infi Kayana dan Meilisna adalah penghafal Qur’an sekaligus guru ngaji.

Pada malam harinya, tanggal 10 September 2020, Saya bersama kawan-kawan mulai mensosialisasikan kesempatan berdonasi untuk pembangunan rumah layak huni bagi guru ngaji melalui Media Sosial (FB, WA, IG, Twiter, dll) maupun secara langsung kepada para dermawan. Alhamdulillah, atas izin dan pertolongan Allah SWT, donasi dari para dermawan terus mengalir, baik yang disampaikan secara langsung kepada kami maupun di transfer melalui Bank, bahkan ada yang menyumbang dalam bentuk bahan bangunan dan tenaga. Para donatur ini berasal dari berbagai daerah, mulai dari Sambas, Pontianak, Pulau Jawa, bahkan ada yang dari negara tetangga Malaysia.

Berdasarkan catatan kami sejak 10 September hingga 04 Desember 2020, telah terkumpul sumbangan uang sebesar Rp. 26.151.000,- dan bahan bangunan. Uang dan bahan bagunan ini kami gunakan dengan hati-hati, dan akhirnya rumah ukuran 7 M x 8 M telah berdiri seperti contoh gambar yang kami sertakan dalam tulisan ini. Selain untuk bangunan rumah, uang tersebut juga kami gunakan untuk pemasangan PLN sekaligus mesin sedotan air, yang mana sebelumnya mereka menumpang ke tetangga. Dari hasil penggunaan uang, sudah dibelanjakan sebesar Rp. 26.530.000,- walau belanjaan minus sebesar (-) Rp. 379.000,- bahkan lebih, tapi sudah bisa diatasi dan tidak ada yang meninggalkan hutang hingga saat ini.

Progres bangunan rumah saat ini sudah mencapai sekitar 90%, karena mengingat saldo minus, maka pembangunan kami hentikan hingga ada dana berikutnya. Pekerjaan bangunan yang belum selesai tersebut antara lain adalah: Pintu, Jendela, Tebelayar, Plaster Dinding Luar, Tegel, Cat dll. Jika tidak ada lagi dana yang masuk, berarti pengerjaan bangunan rumah kami anggap selesai dan kami serahkan sepenuhnya kepada Ibu Ratna Juwita bersama anak-anaknya selaku pemilik rumah.

Saya bersama kawan-kawan termasuk Bu Ratna Juwita sekeluarga mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada Bapak/Ibu para donatur semuanya, termasuk kepada Pak Long Fahmi yang luar biasa menyumbangkan tenaganya sejak pengukuran lokasi rumah hingga pembangunan saat ini. Begitu pula ucapan terima kasih kami kepada Bapak Suryadi dan warga yang membantu pembangunan. Terima kasih pula kami haturkan kepada BAZNAS Kabupaten Sambas yang telah membantu dalam pembelian tanah, termasuk bantuan yang disalurkan oleh PMI Kabupaten Sambas dan Tim Medis Kecamatan Tebas. Tak lupa pula kami ucapkan terima kasih kepada Bu Hayati, H. Mufizar, Dr. Ersan Sanusi (Kamad MAN 1 Sambas), Bang Gamiri, Pak Eko, Bang Aan, Tokoh Mega Bangunan Sambas dan lainnya yang sudah membantu bahan bangunan dan sebagainya.

Spesial Thank’s kepada Bang Maryadi yang sangat luar biasa mencari donatur dan membantu banyak urusan dalam pembangunan, termasuk teman kerja Saya Bu Nuraini dan Pak Indi yang begitu luar biasa dan selalu siap siaga membantu dalam mengurusi pembangunan. Terima kasih kepada semuanya yang terlibat dalam pembangunan rumah Bu Ratna Juwita, baik yang telah Saya sebutkan namanya di atas maupun tidak. Semoga semua yang Bapak/Ibu donasikan menjadi amal jariyah dan menjadi asbab layaknya dimasukan ke dalam Jannah, aamiin ya Rabbal Alamiin.

 

Sambas, 12 Desember 2020

Alfaqir

 

ttd

 

Adnan Mahdi


Khutbah Jum'at: MUHASABAH DIRI & TAUBAT



اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الْمَلِكِ الدَّيَّـانِ، اَلْكَرِيْـمِ الْمَـنَّانِ، اَلرَّحِيْمِ الرَّحْـمَنِ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى حَمْدًا يَدُوْمُ عَلَى الدَّوَامِ، وَأَشْكُـرُهُ عَلَى الْخَيْرِ وَاْلإِنْعَامِ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَـا مُـحَمَّدًا عَـبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللّٰهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مَحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِه صَلاَةً وَ سَلاَمًا دَائِمَيْنِ مَتُلاَزِمَيْنَ عَلَى مَـمَرِّ اللَّــيَالِيْ وَالــزَّمَانِ.
 أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَ طَاعَـتِـهِ لَعَلَّـكُمْ تُفْلِحُوْنَ.
Kaum Muslimin Jamaah Jum’at Rahimakumullah
Alhamdulillah, atas curahan nikmat dan limpahan rahmat Allah SWT, saat ini kita telah berada di Bulan Sya’ban, bulan yang mulia dan agung, karena di dalamnya bertabur syafa’at, kemenangan, karomah, kebaikan, kasih sayang dan cahaya dari Allah SWT. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Yahya bin Mu’adz bahwa Sya’ban terdiri dari lima huruf yaitu syin, ‘ain, ba’, alif, nun dan masing-masing bermakna sebagai berikut. Pertama: Syin, syarafatun atau syafa’atun yang berarti kemuliaan dan syafa’at. Kedua: ‘Ain, al-’izzah wa karomah yang berarti kemenangan dan karomah. Ketiga: Ba’, al-Birru yang berarti kebaikan. Keempat: Alif, Ulfah yang berarti rasa belas kasihan. Kelima:  Nun, Nur yang berarti cahaya.

Shalawat beserta salam semoga senantiasa tercurahlimpahkan kepada manusia agung, insan teladan, yakni Nabi Muhammad SAW, semoga kita sebagai umatnya akan mendapatkan syafaat Beliau di Hari Pembalasan, âmîn ya Rabbal ‘alamîn.
Hadirin Jamaah Jum’at Rahimakumullah
Munculnya wabah corona yang berawal dari Kota Wuhan, Cina, cukup mengagetkan dan membuat panik masyarakat dunia, termasuk kita. Virusnya sangat cepat berkembang dan menjangkiti siapa saja yang bersentuhan langsung maupun tidak langsung pada penderita, karena cara penularannya tidak hanya melalui mulut semata, tapi juga bisa melalui hidung, mata atau semua jenis makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi olehnya. Berdasarkan data yang diperoleh, penyebaran virus corona saat ini sudah merambah ke 190 negara, dan negara yang paling parah terpapar adalah Italia, Cina, Iran, Korea Selatan dan Prancis. Berdasarkan data di Website Kementerian Kesehatan Indonesia tanggal 25 Maret 2020, jumlah yang terkonfirmasi Covid 19 di dunia sudah mencapai 372.757 orang, dan 16.231 orang atau sebesar 4,3% telah meninggal dunia. Sedangkan di Indonesia saat ini, jumlah kasus yang terkonfirmasi sebanyak 790 orang dengan kasus meninggal sejumlah 58 orang.

Semua negara waspada terhadap penyebaran penyakit tersebut. Acara atau kegiatan yang mengumpulkan massa besar di satu tempat mulai dihindari, termasuk di dalamnya kegiatan ibadah. Arab Saudi mulai tanggal 27 Februari lalu menutup penerbangan untuk ibadah umrah, bahkan di Indonesia, Majelis Ulama Indonesia juga sudah mengeluarkan fatwa, di antaranya berbunyi:
1.  Orang yang telah terpapar virus corona, wajib menjaga dan mengisolasi diri agar tidak terjadi penularan kepada orang lain.
Baginya salat Jumat dapat diganti dengan salat zuhur di tempat kediaman, karena salat Jumat merupakan ibadah wajib yang melibatkan banyak orang sehingga berpeluang terjadinya penularan virus secara massal.
2.   Orang yang sehat dan yang belum diketahui atau diyakini tidak terpapar COVID-19, harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a.       Dalam hal ia berada di suatu kawasan yang potensi penularannya tinggi atau sangat tinggi berdasarkan ketetapan pihak yang berwenang maka ia boleh meninggalkan salat Jumat dan menggantikannya dengan salat zuhur di tempat kediaman, serta meninggalkan jamaah salat lima waktu atau rawatib, tarawih, dan ied di masjid atau tempat umum lainnya.
b.      Dalam hal ia berada di suatu kawasan yang potensi penularannya rendah berdasarkan ketetapan pihak yang berwenang maka ia tetap wajib menjalankan kewajiban ibadah sebagaimana biasa dan wajib menjaga diri agar tidak terpapar virus corona. Seperti tidak kontak fisik langsung (bersalaman, berpelukan, cium tangan), membawa sajadah sendiri dan sering membasuh tangan dengan sabun.
3.   Dalam kondisi penyebaran Covid-19 tidak terkendali di suatu kawasan yang mengancam jiwa, umat Islam tidak boleh menyelenggarakan salat jumat di kawasan tersebut, sampai keadaan menjadi normal kembali dan wajib menggantikannya dengan salat zuhur di tempat masing-masing.
4.  Dalam kondisi penyebaran Covid-19 terkendali, umat Islam wajib menyelenggarakan shalat Jumat.
5.   Pengurusan jenazah (tajhiz janazah) terpapar Covid-19, terutama dalam memandikan dan mengkafani harus dilakukan sesuai protokol medis dan dilakukan oleh pihak yang berwenang, dengan tetap memperhatikan ketentuan syariat.
Sedangkan untuk mensalatkan dan menguburkannya dilakukan sebagaimana biasa dengan tetap menjaga agar tidak terpapar Covid-19.
6.  Umat Islam agar semakin mendekatkan diri kepada Allah dengan memperbanyak ibadah, taubat, istighfar, dzikir, membaca Qunut Nazilah di setiap shalat fardhu, memperbanyak shalawat, memperbanyak sedekah, dan senantiasa berdoa kepada Allah SWT agar diberikan perlindungan dan keselamatan dari musibah dan marabahaya (doa daf'u al-bala'), khusus-nya dari wabah Covid-19.
7.   Tindakan yang menimbulkan kepanikan dan atau menyebabkan kerugian publik, seperti memborong dan menimbun bahan kebutuhan pokok dan menimbun masker hukumnya haram.

Berdasarkan data dan fatwa MUI di atas, kita harus lebih waspada. Namun hadirin, jangan sampai kewaspadaan kita melebihi dari batas-batas kewajaran. Jangan pula wabah seperti ini dijadikan lelucon atau meme-meme yang tidak mendidik, karena perilaku seperti itu malahan melahirkan kesombongan dan menganggap remeh peringatan atau warning dari Allah SWT. Mestinya yang kita lakukan segera adalah bermuhasabah diri, merenungi kesalahan untuk dijadikan i’tibar dalam kehidupan ini. Bukankah Allah SWT telah mengingatkan kepada kita di dalam al-Qurân surah ar-Rûm ayat 41:
ظَهَرَ ٱلۡفَسَادُ فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِي ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعۡضَ ٱلَّذِي عَمِلُواْ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ ٤١
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).
Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah
Berdasarkan ayat di atas, Allah telah memberikan peringatan keras bahwa berbagai kerusakan yang terjadi di darat dan di laut adalah akibat dari perbuatan tangan manusia. Peringatan tersebut mengandung pesan agar manusia selalu mengoreksi atau bermuhasabah diri. Dalam skala kecil, muhasabah ini juga sangat diperlukan agar kita cepat sadar diri, mengapa selama hidup yang sudah kita jalani ini tidak ada keberkahan di dalamnya. Kita sudah bekerja siang dan malam, kita juga sudah beramal ibadah, tapi mengapa kehampaan, ketidaktenangan, dan kekurangan selalu menyelimuti kehidupan kita sehari-hari?

Boleh jadi kekayaan kita banyak, jabatan naik melesat, usaha untung berlipat-lipat, bahkan mampu gonta-ganti kendaraan yang mengkilap, tetapi mengapa kesenangan yang kita rasakan selalu diiringi ketakutan dan kecemasan? Bila kondisi ini yang dirasakan, berarti ada yang salah dalam hidup kita.

Akar masalah tersebut bisa kita telusuri dari sikap kita kepada Allah, boleh jadi apapun yang kita lakukan selama ini bukan ditujukan hanya karena dan untuk Allah? Bisa pula sumber permasalahan tersebut akibat dari kedurhakaan kita kepada orang tua? Sebab:
رِضَى اللّٰهِ فِي رِضَى الْوَالِدَيْنِ وَسَخَطُ اللّٰهِ فِي سَخَطِ الْوَالِدَيْنِ
Ridha Allah tergantung pada ridha kedua orangtua, kemurkaan Allah tergantung pada kemurkaan kedua orangtua (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Al-Hakim).
Betapa banyak anak yang tak merasa durhaka, ia hidup dalam kemewahan, sementara orangtuanya bersusah payah untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Ada pula anak yang sering berkata kasar, memperlakukan orangtuanya seperti anak kecil, bahkan sangat pelit untuk berbagi rezeki dengan orangtuanya. Atau ada pula anak melupakan orangtuanya yang telah wafat, jangankan menziarahi makamnya, berkirim doa pun tak pernah. Bagimana ia bisa mendapatkan keberkahan Allah bila perilaku dan adabnya kepada orangtua seperti ini?
Hadirin Jamaah Jum’at Rahimakumullah
Masih banyak lagi perbuatan lain yang bisa menjadi penyebab terhalangnya keberkahan Allah dalam hidup kita, bisa terkait dengan halal atau haramnya harta yang kita miliki, bisa pula karena kedzaliman kita pada orang lain, atau boleh jadi disebabkan oleh kesombongan dalam diri kita sendiri.

Untuk itulah hadirin, perlunya kita bermuhasabah diri, agar kita cepat mengetahui kesalahan yang telah kita perbuat dalam hidup ini. Bila sudah kita ketahui, maka segeralah bertaubat kepada Allah SWT. Syarat diterimanya taubat seorang hamba, Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani di dalam kitabnya al-Ghuniyah menyebutkan ada tiga tahapan: Pertama, menyesali kesalahan yang telah diperbuat; Kedua, meninggalkan setiap kesalahan dimana pun dan kapan pun; Ketiga, berjanji untuk tidak mengulangi dosa dan kesalahan. Taubat yang kita lakukan di Bulan Rajab dan dilanjutkan dengan peningkatan ketaatan di Bulan Sya’ban ini sejalan dengan pendapat Syaikh Dzunnun Al-Misri, bahwa Bulan Rajab adalah bulan untuk meninggalkan kejelekan, bulan Sya’ban adalah bulan menambah ketaatan, bulan Ramadhan adalah bulan untuk menjemput kemuliaan. Jika seseorang tidak meninggalkan kejelekan, tidak meningkatkan ketaatan, tidak menjemput kemuliaan, maka ia adalah pengikut setan. Na‘ûdzu billâhi min dzâlik.
Kaum Muslimin Jamaah Jum’at Rahimakumullah
Ketika muhasabah diri sudah dilakukan, tahapan taubat telah dilaksanakan, maka langkah selanjutnya yang perlu kita update dan upgrade di Bulan Sya’ban ini adalah memperbanyak ibadah, berpuasa sunnah, dzikrullah dan terus bermunajat kepada Allah agar kita, keluarga kita dan bangsa Indonesia selalu mendapat curahan rahmat dan keberkahan dari Allah SWT, serta kita dijauhkan dari wabah virus corona yang telah menghantui hidup kita dan umat manusia sejagat raya ini, amîn yâ Rabbal ‘alamîn.
أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا أَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ.

Khutbah Kedua:

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ألِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، وَأَحُثُّكُمْ عَلَى طَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ اْلقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَاأَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ، وَقاَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ. صَدَقَ اللهُ الْعَظِيْمُ وَصَدَقَ رَسُوْلُهُ النَّبِيُّ الْكَرِيْمُ وَنَحْنُ عَلَى ذلِكَ مِنَ الشَّاهِدِيْنَ وَالشَّاكِرِيْنَ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلـمُؤْمِنَاتِ وَاْلـمُسْلِمِيْنَ وَاْلـمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. أَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَـنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَــلِّغْنَا رَمَضَانَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَاللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلـمُنْكَرِ وَاْلبَغْي، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.

Link Download NASKAH KHUTBAH

Jangan Anggap Remeh: Covid 19 Sangat Berbahaya



DINKES PROV. KALBAR – Virus 2019 Novel Coronavirus (2019-nCoV) yang lebih dikenal dengan nama virus Corona adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia  menyerang siapa saja, baik bayi, anak-anak, orang dewasa, lansia, ibu hamil, maupun ibu menyusui.  Infeksi virus ini disebut COVID-19 dan pertama kali ditemukan di kota Wuhan, Cina, pada akhir Desember 2019.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengumumkan jumlah kasus dan kematian masih akan meningkat dalam hitungan hari dan pekan ke depan. Kriteria spesifik untuk pandemi tidak ditentukan secara universal, tetapi ada tiga kriteria umum yakni virus yang dapat menyebabkan penyakit atau kematian, penularan virus orang-ke-orang yang berkelanjutan, dan bukti penyebaran ke seluruh dunia.

Berdasarkan data John Hopkins, per Rabu (11/3/2020), virus corona telah menginfeksi 121.564 orang di 118 negara. Virus tersebut berasal dari Wuhan, Hubei, China. Kini, virus corona telah menelan korban meninggal sebanyak 4.373 orang. China menjadi negara yang terbanyak terinfeksi yakni sebesar 80.969 orang. Menyusul Italy sebesa 10.149 orang dan Iran sebanyak 9.000 orang. Di Indonesia total kasus virus corona Covid-19 berjumlah 34 orang terinfeksi 2 sembuh, dan 1 meninggal dunia pasien tersebut adalah warga negara Inggris berusia 53 tahun. Virus Corona menyebabkan  gangguan  sistem pernapasan, pneumonia akut, sampai kematian.


Presiden RI Bapak Ir. Jokowi di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (3/3/2020) mengatakan “Penyebaran virus ini tentu bisa dihindari, asalkan bisa mendeteksi awal mulanya muncul. Gejala Covid-19 seperti flu dan faktanya sebagian besar pasien yang ada baik di RRT, Wuhan, kemudian Jepang, Italia, sudah hampir semuanya pasien dapat pulih kembali, tapi tetap harus hati-hati dan waspada dalam beraktivitas”.

Kementerian Kesehatan, mengemukakan  ada beberapa ciri-ciri terkena virus Corona dan gejalanya pada manusia, antara lain :

1.      Demam
2.      Batuk  dan pilek
3.      Gangguan Pernapasan
4.      Sakit Tenggorokan
5.      Letih dan lesu

CDC (Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit) mengatakan  gejala virus Corona akan muncul dalam waktu 2-14 hari. “Kita dapat mencegah penularan virus corona dengan sering cuci tangan. Jangan kemudian menyentuh wajah sebelum cuci tangan. Jika belum dicuci jangan sekali-sekali menyentuh wajah dan yang paling penting adalah menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh.dengan demikian imunitas kita menjadi lebih baik.

Kementerian Kesehatan RI menyarankan  langkah untuk menghindari penularan virus corona, adalah sebagai berikut:

1.      Makan makanan bergizi
2.      Rajin olahraga dan istirahat
3.      Sering cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir
4.      Gunakan masker bila batuk atau tutup mulut dengan lengan atas bagian dalam
5.      Tidak merokok
6.      Minum air putih 8 gelas/hari
7.      Makan makanan yang dimasak sempurna
8.      Jangan makan daging dari hewan yang berpotensi menularkan
9.      Jaga kebersihan lingkungan
10.  Bila demam dan sesak nafas segera ke fasilitas kesehatan.

Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Barat dr Harisson mengatakan bahwa RSUD di provinsi kembali merawat tiga orang warganya di ruang isolasi rumah sakit, di mana ketiga pasien ini masuk dalam kategori pasien dalam pengawasan COVID-19, dua dari tiga orang pasien tersebut dirawat di ruang Isolasi RSUD dr Soedarso Pontianak,  dan satu orang pasien dirawat di ruang isolasi RSUD Abdul Azis di Singkawang.

Harisson menjelaskan, dua orang pasien yang dirawat di RSUD Soedarso Pontianak terdiri atas satu orang pasien yang berumur 34 tahun, yang sebelumnya melakukan perjalanan ke Kuala Lumpur, Malaysia dengan pesawat Air Asia, sedangkan satu pasien lainnya yang berumur 55 tahun sebelumnya melakukan perjalanan ke Kuching, Serawak, Malaysia juga dengan menggunakan pesawat Air Asia untuk berobat di salah satu rumah sakit di Kuching. Pulang dari berobat ke Kuching malah sakitnya tambah parah dan harus dirawat di ruang isolasi karena kecurigaan menderita COVID-19. Kedua orang pasien tersebut menderita batuk, demam dan sesak napas. Dari gambaran pemeriksaan rontgen didapatkan gambaran pneumonia sehingga kedua pasien ini memenuhi kriteria pasien dalam pengawasan COVID-19.

Pasien yang sedang dirawat di ruang isolasi RSUD Abdul Azis di Singkawang, berumur 19 tahun dan merupakan warga Singkawang yang bekerja di Sarawak. Tiga pasien telah melakukan pemeriksaan “swab nasofaring” untuk pengambilan specimen lender di tenggorokan.dan selanjutnya spesimen akan dikirim ke Balitbangkes Kemenkes di Jakarta.

Hal terpenting untuk mencegah diri dari infeksi virus corona adalah dengan menjaga daya tahan tubuh, prinsipnya orang yang terinfeksi  memiliki daya tahan tubuh yang tidak baik.  cara menjaga daya tahan tubuh agar terhindar dari virus corona, antara lain:

1.      Pentingnya pola hidup sehat dan konsumsi buah serta sayur
Untuk menjaga agar daya tahan tubuh kita kuat, dengan pola hidup yang sehat, tidur cukup, dan mengonsumsi buah dan serta sayuran.
2.      Menutup mulut saat bersin dan batuk
Penyebaran virus hanya terjadi bersin atau batuk tersebut langsung mengenai diri kita. Oleh karena itu, sangat penting untuk menutup mulut saat kita bersin atau batuk.
3.      Cuci tangan dengan benar
WHO juga merekomendasikan agar kita menjaga kebersihan tangan untuk mencegah penyebaran virus corona karena salah satu penularannya bisa melalui kontak tangan. Selain cuci tangan dengan air mengalir, sabun juga wajib ada untuk mencuci tangan. Lalu pastikan semua bagian tangan terkena sabun. Setelah itu, bilas lagi dengan air dan keringkan tangan,
4.      Penggunaan masker juga guna mencegah penularan virus corona (Covid-19).
Badan Kesehatan Dunia (WHO)  menyarankan penggunaan masker untuk mencegah penularan akan lebih efisien jika dikenakan pasien yang sedang sakit.




Tanah “Keramat” di Kampong Dagang Sambas


Syaikh Ahmad Khathib As-Sambasy

Sekitar 216 tahun yang lalu, lahirlah seorang bayi yang kini namanya sudah mendunia. Bayi tersebut bernama Ahmad Khathib atau yang lebih dikenal saat ini dengan Syaikh Ahmad Khathib As-Sambasy. Beliau lahir pada Bulan Safar Tahun 1217 H atau 1803 M, di Kampong Dagang atau Kampong Asam Sambas, Kalimantan Barat. Tanah yang sudah tak tersisa sedikitpun bangunan di bawah ini menjadi saksi sekaligus fakta sejarah bawah di “Tanah Keramat” Kampong Dagang inilah lahir seorang Ulama Dunia yang menjadi Guru dari Ulama-ulama di Nusantara. Berikut lokasi-lokasi dimaksud:


Tanah Tempat Rumah Syaikh Ahmad Khathib As-Sambasy

Pembersihan Lokasi Tanah Syaikh Ahmad Khathib As-Sambasy

Tanah Tampak dari Depan

Tanah Tampak dari Belakang

Lokasi Bekas Suak Syaikh Ahmad Khathib As-Sambasy

Lokasi Bekas Telaga/Sumur Syaikh Ahmad Khathib As-Sambasy

“Tanah Keramat” ini sudah tidak dimiliki oleh keluarga atau ahli waris dari Syaikh Ahmad Khathib As-Sambasy, karena telah dijual dan dimiliki oleh orang lain. Postingan ini bertujuan untuk menunjukan kepada dunia lokasi lahirnya Syaikh Ahmad Khathib As-Sambasy. Melalui postingan ini, mudah-mudahan Pemerintah Daerah Kabupaten Sambas atau para murid Beliau, termasuk para dermawan bisa membebaskan tanah dan dibangun situs Rumah Syaikh Ahmad Khathib As-Sambasy. Semoga Allah SWT mempermudah terwujudnya niatan dan azam al-Fakir Adnan ini, âmîn.





Tradisi Pendidikan Pralahir dalam Keluarga Melayu Sambas


Dr. Adnan Mahdi, S.Ag., M.S.I.

Masyarakat Melayu Sambas tempoe doeloe sangat dikenal agamis dan berakhlakul karimah. Kondisi ini terjadi pada masa kejayaan Kesultanan Sambas. Pada masa itu, telah lahir ulama-ulama Sambas yang sangat disegani karena kedalaman dan keluasan ilmu-ilmu agamanya, seperti Nuruddin Mustafa, Syaikh Ahmad Khathib As-Sambasy, Syaikh Nuruddin Tekarang, Syaikh Muhammad Sa’ad Selakau, Maharaja Imam Muhammad Basiuni Imran, Haji Muhammad Djabir dan masih banyak lagi ulama Sambas yang berpengaruh dan menjadi rujukan masyarakat di dalam dan dari luar Sambas.
Dibalik ketokohan dari nama-nama ulama yang telah disebutkan di atas, ada faktor lain yang sering terlewatkan, yakni orangtua yang telah berjasa dan berhasil menanamkan pendidikan Islam sejak dini sehingga bisa menghantarkan mereka menjadi ulama yang terkenal. Sungguh sangat mustahil mereka bisa menjadi ulama tanpa sentuhan pendidikan orangtuanya. Untuk itu, sangat perlu diungkap model pendidikan Islam yang sudah mentradisi di lingkungan keluarga dan masyarakat Melayu Sambas pada tempoe doeloe yang saat ini sepertinya sudah terpinggirkan.
Dalam tradisi pendidikan, orangtua Melayu Sambas sudah memulainya sejak anak masih di dalam kandungan. Pendidikan pralahir ini masih berbentuk pantang-larang kepada orangtuanya, terutama ibu yang sedang mengandung. Hampir setiap ibu yang mengandung, mereka dilarang untuk marah-marah, mencaci-maki, berbohong, berbicara semaunya, melamun, bermalas-malasan, banyak tidur, berpakaian tidak sopan, makan dan minum yang tidak halal. Selain itu, suami atau istri yang sedang hamil juga dilarang untuk menyembelih hewan, bersedih, melilitkan handuk atau sejenisnya di leher, tidak makan kulit sapi dan kulit ikan pari, terong asam maupun rebung. Ketika ingin berpergian pada malam hari, mereka harus membawa alat seperti paku, pisau atau sejenisnya, membawa puntongan kayu yang masih ada apinya, dan memakai tapih kain berwarna hitam.
Jika dilihat sepintas, sepertinya larangan-larangan tersebut tidak ada kaitannya dengan pendidikan anak di dalam kandungan, namun bila digali makna dan nilai pendidikan yang tersirat di dalamnya, ternyata orangtua dari pasangan yang mengandung tersebut dikehendaki agar selalu menjaga diri dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan tercela yang bertentangan dengan norma agama dan masyarakat Sambas pada umumnya. Orangtua pada masa lalu sadar betul bahwa apa yang dilakukan oleh ibu yang sedang mengandung tersebut bisa diwarisi oleh anaknya ketika sudah lahir. Kesadaran orangtua ini cukup beralasan, karena bila disandarkan dalam agama, anak sudah dapat dididik sejak berusia lima bulan di dalam kandungan, sebab pada usia empat bulan, janin sudah dikaruniai potensi pendengaran, penglihatan dan hati (QS. As-Sajdah [32]: 9). Menurut para ilmuwan, pada usia lima bulan ini anak sudah bisa mendengar, melihat dan merasakan perbuatan atau perkataan ibunya. Ketika di dalam kandungan, janin sudah berfungsi seperti piringan hitam atau blueprint yang siap untuk merekam setiap rangsangan yang diterimanya dan yang paling dekat serta aktif memberikan rangsangan adalah ibunya. Bahkan menurut hasil riset John Beck (1994), janin bisa mengalami peningkatan kecerdasan otak, keteguhan pendirian dan komunikasi yang baik setelah ia lahir bila ibunya berperilaku, berkata dan menjaga diri dengan baik saat kehamilannya. Penelitian serupa juga dilakukan Panthuraamphorn di Hua Chiew General Hospital, Bangkok Thailand pada anak pralahir, dan hasilnya bahwa bayi yang diberikan stimulasi pralahir sangat cepat mahir dalam berbicara, menirukan suara, menyebutkan kata pertama, tersenyum secara spontan, mampu menoleh ke arah suara orangtuanya, lebih tanggap pada musik, dan juga mengembangkan pola sosial lebih baik saat ia dewasa.
Berdasarkan dalil dan hasil riset di atas, maka cukup beralasan bagi orangtua Melayu Sambas untuk menjaga dan memberikan pendidikan terbaik kepada anaknya sejak dalam kandungan. Namun sangat disayangkan pada generasi millenial saat ini, tradisi pantang larang saat kehamilan dinilainya sudah usang, tidak relevan dengan perkembangan zaman, bahkan tidak sedikit yang menghukuminya syirik atau bid’ah tanpa mau mengetahui dasar dalil dan menggali nilai pendidikan yang tersirat di dalamnya. Padahal, dari tradisi pendidikan pralahir ini, sedikit banyaknya sudah berkontribusi positif dalam melahirkan ulama-ulama Sambas tempoe doeloe. (Insya Allah tulisan ini akan bersambung ke: Tradisi Pendidikan Anak Usia 0-1 Tahun dalam Keluarga Melayu Sambas).

Berharap Kembalinya Kejayaan Sambas sebagai Serambi Mekah


Dr. Adnan Mahdi, S.Ag., M.S.I.
(Sekretaris Umum Yayasan TQN Khathibiyah Sambas)

Jargon Sambas sebagai Serambi Mekah sudah dikenal sejak zaman kesultanan Sambas, dan indikator terkuat pelabelan Serambi Mekah tersebut terjadi pada masa Sultan Muhammad Syafiuddin II. Salah satu situs sejarah yang dapat dilihat hingga saat ini adalah Masjid Jami’ Muhammad Syafiuddin II, terletak di komplek Istana Alwatzikoebillah, Desa Dalam Kaum Kecamatan Sambas. Masjid Jami’ yang sudah berusia 134 tahun sejak diresmikan pada tanggal 10 Oktober 1885 oleh Sultan Muhammad Syafiuddin II, pada zamannya dijadikan sebagai tempat ibadah dan kegiatan keagamaan sekaligus sentral Pendidikan Agama Islam. Berawal dari pendidikan di Masjid Jami’ ini, pihak Kesultanan Sambas mengutus beberapa pemuda untuk belajar dan memperdalam ilmu agama Islam ke Timur Tengah. Satu di antara beberapa tokoh yang pernah belajar di Al-Azhar Mesir dan namanya sudah mendunia adalah Muhammad Basiuni Imran. Sepulangnya dari pendidikan, Basiuni Imran dinobatkan sebagai Mahraja Imam Kesultanan Sambas dan dipercayakan untuk mengelola sekolah pertama Kesultanan Sambas yang diberi nama al-Sulthoniyah. Melalui al-Sulthoniyah inilah pendidikan Islam diajarkan secara formal, sementara pendidikan non formalnya tetap dilaksanakan di Masjid Jami’ Sultan Muhammad Syafiuddin II yang peserta didiknya tidak hanya berasal dari kalangan istana, tapi juga dari berbagai kalangan dan daerah di luar Kesultanan Sambas.

Selain pendidikan Islam melalui jalur formal kesultanan, pelabelan Serambi Mekah ini pula ditopang oleh pendidikan non formal yang dilakukan di kalangan masyarakat. Ada dua tokoh sebagai pewaris ajaran Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN) Syaikh Ahmad Khathib As-Sambasy (1803-1875 M) yang berasal dan menetap di Sambas yaitu Syaikh Muhammad Sa’ad (1807-1922 M) di Selakau dan Syaikh Nuruddin (1835-1895 M) di Tekarang. Kedua Syaikh ini belajar TQN langsung dari gurunya Syaikh Ahmad Khathib As-Sambasy di Mekah dan mengajarkan pelajaran tersebut kepada masyarakat di masjid yang didirikan dekat dengan rumah tempat tinggalnya. Inti materi ajaran TQN ini terletak pada pensucian hati dan ikhtiar untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan amalan pokok setelah shalat fardhu, yaitu dzikir Allah dan Lâilâhaillallâh. Bagi orang yang sudah terbiasa berdzikir dan merasakan keberadaan Allah dimanapun dan kapanpun, maka hidupnya akan lebih baik dan bisa memancarkan kebaikan-kebaikan kepada orang lain. Potret masyarakat Sambas pada masa lalu adalah masyarakat religius dan berakhlakul karimah, sehingga sangat dimungkinkan kebaikan-kebaikan tersebut sebagaian besarnya dipengaruhi oleh pendidikan yang mereka dapatkan, mulai dari pendidikan informal di rumah, pendidikan formal di sekolah, maupun pendidikan non formal di masyarakat. Bijaknya orang tua masa lalu adalah menanamkan nilai-nilai religius dan akhlakul karimah kepada anak-anak mereka tidak serta-merta dilakukan secara langsung, tapi disampaikan juga melalui adat istiadat di masyarakat, seperti kegiatan Zikir Nazam (Assalai dan Asrakal), Zikir Maulid, Tepung Tawar, Bejajak, Bepapas, Tahlilan, termasuk peringatan Maulid Nabi, Isra’ Mi’raj dan berbagai kegiatan lainnya. Oleh sebab itu, kegiatan-kegiatan ini tidak boleh langsung dihukumi halal-haram atau sunnah-bid’ah, tapi harus dilihat muatan dan nilai-nilai pendidikan yang ada di dalamnya. Sebab adat istiadat, tradisi atau kegiatan tersebut tidaklah sembarangan dilakukan orang tua masa lalu, mereka selalu berpedoman pada falsafah Melayu: Adat Bersendikan Syara’, Syara’ Bersendikan Kitabullah.

Berdasarkan uraian singkat di atas, dapat ditarik simpul-simpulnya yang bisa mendorong kembali agar Sambas menjadi Serambi Mekah dengan memadukan model dari tiga pusat pendidikan, yakni keluarga, sekolah dan masyarakat. Model pendidikan ini rencananya akan dilakukan oleh TQN Khathibiyah Sambas melalui pendirian Pondok Pesantren di Tekarang, lokasinya tidak jauh dari rencana pembangunan Jembatan Sungai Sambas Besar di Makrampai-Tekarang. Untuk merealisasikan pendirian Pondok Pesantren TQN Syaikh Ahamd Khathib As-Sambasy tersebut yang rencananya akan diberi nama Pondok Pesantren Khathibiyah Sambas, tentu sangat memerlukan dukungan dari seluruh elemen masyarakat, termasuk para pemegang kebijakan mulai dari Kepala Desa, Camat, Bupati, Gubernur dan seterusnya. Pengurus Yayasan dan seluruh Jama’ah TQN Khathibiyah Sambas sangat berharap kepada Bupati Sambas dan Gubernur Kalimantan Barat agar dapat membantu merealisasikan pendirian Pondok Pesantren Khathibiyah Sambas ini dalam ikhtiar membantu mewujudkan masyarakat Sambas religius dan berakhlakul karimah, melestarikan ajaran TQN Syaikh Ahmad Khathib As-Sambasy sekaligus usaha untuk menjadikan Sambas sebagai Serambi Mekah Jilid II.

Tulisan ini sudah diterbitkan di Majalah Media Sambas