#Dr.
Adnan, M.S.I.
@Isi
Buku
Dalam proses penciptaan manusia di dalam Al-Qur’an, tersirat
pesan-pesan pendidikan yang mengelompokan manusia sebagai makhluk biologis dan
psikologis. Sebagai makhluk biologis, manusia berasal dari air mani yang
terhimpun dari saripati tanah. Petunjuk ini memberikan isyarat pada manusia
agar mereka tidak menyombongkan diri, karena sesungguhnya mereka bukanlah
tercipta dari unsur yang istimewa, melainkan dari air hina yang berasal dari
saripati tanah, dan diakhir kehidupannya nanti juga akan dikembalikan ke tanah.
Pada awal proses
penciptaan manusia, seseorang yang terlahir ke dunia ini sebenarnya adalah
orang yang menang karena ia telah mampu mengalahkan jutaan pesaingnya ketika
masih berbentuk sel-sel kehidupan. Pelajaran ini seharusnya menjadi inspirasi
bagi manusia bahwa di alam dunia ini, sebesar apa pun harapan yang ia miliki,
harus dilakukan dengan perjuangan yang sungguh-sungguh, dan mereka harus
menghindarkan sikap putus asa ketika harapannya belum tercapai, karena putus
asa merupakan penyimpangan dari semangat awal pada masa penciptaannya.
Setelah berbentuk ‘alaqah,
wujud tersebut bergantung pada dinding rahim dengan eratnya, seakan-akan ada
sesuatu yang akan memisahkannya. Keadaan seperti itu memberikan inspirasi
kepada manusia, bahwa ketika mereka berada di alam dunia ini, mereka harus
menggantungkan dirinya secara total kepada Sang Pencipta, yaitu Allah SWT.
Menurut Nurwadjah Ahmad,[1]
penyebutan kata ‘alaqah itu bisa
memunculkan tiga pemahaman makna dalam tiga konteks, yaitu:
1. Dari perspektif kosmologi, manusia adalah makhluk yang sangat
lemah, kehidupannya sangat tergantung pada kehidupan strata-strata di bawahnya.
Misalnya saja, manusia tidak akan mampu bertahan hidup jika tidak ditopang oleh
strata hewani, nabati, dan atomik.
2. Dalam konteks makhluk sosial, kehidupan manusia tidak akan
bisa berjalan tanpa di topang oleh manusia lainnya.
3. Semua ciptaan Allah di bumi ini bersifat fana/binasa,
maka tidak diperkenankan baginya untuk menggantungkan hidupnya secara total
pada sesuatu, kecuali hanya pada Allah sebagai penciptanya.
Pemahaman di atas
jelas memperkuat, bahwa hanya Allah saja tempat bergantung,[2]
seperti laiknya ‘alaqah yang
bergantung pada dinding rahim. Setelah ‘alaqah terbungkus daging dengan dilengkapi
tulang-belulang yang terdapat dalam daging tersebut, Allah SWT meniupkan ruh
padanya, dan hal itu menjadi petanda sempurnanya penciptaan manusia. Pada
prosesi ini, manusia tidak lagi dipandang sebagai makhluk biologis, tetapi ia
juga sudah bisa dipandang sebagai makhluk psikologis.
Sebagai makhluk
psikologis, manusia mulai dibekali dengan potensi berupa pikiran, perasaan dan
kehendak. Ketika potensi psikologis ini telah menyatu dalam potensi biologis,
para pakar pendidikan Islam sangat menganjurkan kepada ibu-ibu hamil agar
sering memperdengarkan atau membaca ayat-ayat suci al-Qur’an. Tidak hanya itu,
ayahnya juga diminta untuk membaca ayat al-Qur’an karena sangat diyakini
perilaku orang tua tersebut sangat mempengaruhi perkembangan janin dalam
kandungan. Adapun surat-surat yang sangat dianjurkan untuk dibaca adalah surat
Maryam dan Yusuf, dengan harapan agar anaknya nanti akan berwajah ganteng
seperti Nabi Yusuf jika anaknya laki-laki, dan cantik serta salihah seperti
Maryam jika anaknya perempuan.[3]
Terkait dengan
kedua potensi di atas, Muhaimin mengatakan bahwa potensi yang paling esensial
adalah potensi psikologis atau ruh. Karena menurutnya, jasad atau unsur
biologis hanyalah alat ruh di
alam dunia ini, ketika kematian telah datang, maka yang akan melanjutkan
perjalanan eksistensinya ke alam barzah adalah ruh.[4]
Untuk menyelamatkan hidup di akhirat nanti, potensi yang telah diberikan
tersebut harus dioptimalkan saat di dunia ini melalui pendidikan, karena
melalui pendidikan, potensi yang dimiliki manusia akan dapat dikembangkan
sesuai dengan fitrahnya sebagai manusia.
Prosesi penciptaan
manusia setelah ditiupkan ruh
oleh Allah, akan berkembang setahap demi setahap menuju kesempurnaan
semua potensi yang diterimanya hingga ia terlahir ke dunia. Prosesi penciptaan
manusia itu mengandung nilai pendidikan yang sangat tinggi. Hal ini sebagaimana
yang diungkapkan oleh Muhaimin bahwa dari proses kejadian manusia itu,
ditemukan nilai-nilai pendidikan yang perlu dikembangkan dalam proses
pendidikan Islam, antara lain:
1. Salah satu cara yang ditempuh Al-Qur’an dalam mengantarkan
manusia untuk menghayati petunjuk-petunjuk Allah ialah dengan cara
memperkenalkan jati diri manusia itu sendiri, bagaimana asal kejadiannya, dari
mana datangnya, dan bagaimana dia hidup. Ini sangat perlu diingatkan kepada
manusia melalui proses pendidikan, sebab gelombang hidup dan kehidupan
seringkali menyebabkan manusia lupa diri.
2. Ayat-ayat yang menyangkut proses kejadian manusia tersebut
secara implisit mengungkapkan kehebatan, kebesaran, dan keagungan Allah dalam
menciptakan manusia. Pendidikan dalam Islam antara lain diarahkan kepada
peningkatan iman, pengembangan wawasan atau pemahaman serta penghayatan secara
mendalam terhadap tanda-tanda keagungan dan kebesaran Allah sebagai Sang
Pencipta.
3. Manusia itu diciptakan dengan kelengkapan potensi biologis
dan psikologisnya, yang dalam pendidikan Islam, hal itu menjadi fokus
pengembangan agar manusia dapat menjalankan fungsinya sebagai khalifah di muka
bumi ini.
4. Proses kejadian manusia yang tertuang dalam Al-Qur’an
tersebut ternyata semakin diperkuat oleh penemuan ilmiah, sehingga lebih
memperkuat keyakinan manusia akan kebenaran Al-Qur’an sebagai wahyu dari Allah.
Pendidikan dalam Islam, antara lain diarahkan pada pengembangan semangat ilmiah
untuk mencari dan menemukan kebenaran ayat-ayat Allah.[5]
Setelah manusia
lahir, kondisinya masih sangat lemah (thifl), ia sangat membutuhkan
pendidikan dari orang tuanya agar menjadi manusia yang kuat. Dalam kasus ini,
Al-Qur’an atau Hadis tidak ada yang merinci secara jelas fase perkembangan anak
dan jenis pendidikan yang diberikan, hanya saja ada sebuah hadis yang
memberikan contoh cara mendidikan anak, seperti hadis yang berbicara mengenai
anjuran kepada orang tua agar menyuruh anaknya shalat pada usia tujuh tahun, dan
apabila pada usia 10 tahun mereka belum melaksanakan shalat, maka dibolehkan
bagi orang tua untuk memukulnya.[6]
Berangkat dari
hadis tersebut, Nurwadjah Ahmad mengelompokkan usia anak dan jenis pendidikan
yang bisa diberikan, sebagai berikut:
1. Usia 0-2 tahun. Pada usia ini anak masih cukup lemah,
sehingga dalam perkembangan biologisnya masih sangat bergantung pada suplai
makanan dari ibunya melalui air susu ibu. Pada masa ini, kasih sayang ibu
sangat dibutuhkan oleh sang anak.
2. Usia 2-7 tahun. Pada usia ini anak sudah bisa berjalan dan
bermain, sehingga Rasulullah memberikan petunjuk agar tidak mengganggu
kesenangan anak untuk bermain, seperti tergambar pada sikap Nabi terhadap kedua
cucunya tatkala ia sedang sujud dalam shalat.
3. Usia 7-10 tahun. Pada usia ini, orang tua dianjurkan untuk
mulai mendidik anaknya shalat, apabila mereka tidak mau shalat, maka orang tua
dibolehkan untuk memukulnya. Secara tersirat, anjuran itu menunjukkan bahwa
pada usia tujuh tahun, anak sudah mampu menghapal bacaan tertentu dan melakukan
sesuatu yang bersifat fisik.
4. Usia 10-Ihtilam. Pada usia ini, orang tua harus
memberikan sanksi yang bersifat fisik ketika anaknya tidak mau melaksanakan
shalat. Secara tersirat, perintah tersebut menunjukkan bahwa pada usia ini anak
sudah siap menerima sanksi dalam bentuk fisik, atau bisa juga dipahami agar
orang tua bertindak tegas jika anaknya melanggar perintah agama.[7]
Setelah melewati
masa kanak-kanak tersebut, ia akan memasuki masa dewasa, dan pendidikan orang
tua tetap masih dibutuhkan sesuai kemampuannya. Pendidikan tersebut terus
berlangsung hingga anak benar-benar mampu mandiri, dan ketika itu, pendidikan
tidak hanya di rumah saja, melainkan juga di tempat-tempat penyelenggaran
pendidikan. Hal yang perlu diingat, bahwa pendidikan yang diberikan harus
sesuai dengan perkembangan anak, agar materi yang diterimanya dapat diserap
dengan maksimal.
Berdasarkan
pembahasan di atas, ternyata dalam proses penciptaan manusia yang tercantum
dalam Al-Qur’an, sangat banyak memuat nilai-nilai pendidikan Islam,
diantaranya: pendidikan untuk kesadaran akan hakikat asal-mula kejadian manusia
agar manusia tidak menjadi sombong dan angkuh, tidak mudah putus asa dalam
menjalani hidup, menggantungkan hidup hanya kepada Allah semata, memberikan
pendidikan sesuai dengan perkembangan anak, dan selalu berusaha untuk
mengembangkan potensi yang dimiliki agar bisa menjadi manusia sempurna yang mampu
untuk menunaikan tugas utamanya sebagai khalifah di muka bumi ini. Wallahu
a’lam.
Maaf, footnotenya dihapus

No comments:
Post a Comment